Laman

Sabtu, 02 Juni 2012

Proses dan Causa Prima (Tuhan)

Sedikit terbetik pemikiran mengenai entitas Tuhan, bagaimana eksistensi kemuliaan-Nya kemudian tersebar dalam berbagai bentuk dan penampakan di dunia. Adalah misteri bagi seluruh ciptaan (makhluk) mengenai entitas ideal ini, yang mana "keber-ada-an"-Nya selalu dipikirkan dan berusaha untuk difahami oleh makhluk berpikir; terutama manusia.

Agama-agama (religions), sebagai otoritas utama yang berusaha merunut "ide" tentang Tuhan, tersebar di belahan bumi Barat dan Timur, berikut koridor-koridor filsafat yang senyatanya membahas entitas Tuhan dan berusaha untuk melulu komprehensif dalam "mencernanya". Entah itu menerima, mengakui, menegasikan dan sebagainya, Tuhan tetaplah suatu hal yang menarik bagi makhluk berpikir; utamanya manusia, di muka bumi.

Dalam KBBI, kata "Tuhan" merujuk pada kesebenaran kata "tuan" yang dapat diartikan sebagai berikut:
  • orang tempat mengabdi, sebagai lawan kata hamba, abdi, budak: anjing itu sangat setia kepada -- nya;
  • orang yang memberi pekerjaan; majikan; kepala (perusahaan dan sebagainya); pemilik atau yg empunya (toko dan sebagainya): hari ini -- saya tidak ada di kantor;
  • orang laki-laki (yang patut dihormati): ada seorang -- datang kemari; sepeda -- , sepeda untuk orang laki-laki;
  • sebutan kepada orang laki-laki bangsa asing atau sebutan kepada orang laki-laki yg patut dihormati: -- haji; -- sayid;
  • sebutan bagi wanita bangsawan (putri raja dan sebagainya): -- putri
Dalam pemahaman lebih lanjut, transformasi "tuan" menjadi "Tuhan" dalam pemahaman bahasa melayu menurut ahli bahasa Remy Sylado yang menemukan bahwa perubahan kata "tuan" yang tuan sifatnya insani, menjadi "Tuhan" yang sifatnya ilahi itu bermula dari terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu karya Melchior Leijdecker yang terbit pada tahun 1733. Kini kata Tuhan yang mula-mula ditemukan Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani & ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih akhirnya menjadi lema khas dalam bahasa Indonesia.
 
Konsep Tuhan, lebih lanjut dikaji secara mendalam dalam kajian filsafat. Secara filsafat, prestasi dalam pencarian Tuhan biasanya berujung pada penemuan eksistensi Tuhan saja, dan tidak sampai pada substansi tentang Tuhan. Dalam istilah filsafat eksistensi Tuhan itu dikenal sebagai absolut, berbeda (distinct) dan unik. Absolut artinya keberadaannya mutlak bukannya relatif. Hal ini dapat dipahami, bahwa pernyataan semua kebenaran itu relatif itu tidak benar. Kalau semua itu relatif, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sesuatu itu relatif. Padahal yang relatif itu menjadi satu-satunya eksistensi realitas. Ibarat warna yang ada di seluruh jagat ini hanya putih, bagaimana kita bisa tahu putih padahal tidak ada pembanding selain putih. Dengan demikian tidak bisa disangkal adanya kebenaran itu relatif, dan secara konsisten tidak bisa disangkal pula adanya kebenaran mutlak itu. Dengan kemutlakannya, ia tidak akan ada yang menyamai atau diperbandingkan dengan yang lain (distinct). Kalau Tuhan dapat diperbandingkan tentu tidak mutlak lagi atau menjadi relatif. Karena tidak dapat diperbandingkan maka tuhan bersifat unik, dan hanya ada dia satu-satunya. Kalau ada yang lain, berarti dia tidak lagi mutlak.
 
Salah satu argumentasi ontologis yang paling terkenal adalah argumentasi yang dilontarkan oleh Anselmus, seorang uskup dari Canterbury. Dalam argumentasinya, Anselmus menyatakan bahwa Tuhan itu adalah aliquid quo nihil maius cogitari possit. Dalam bahasa Indonesia, ide tentang Tuhan dari Anselmus ini bisa diartikan sebagai “yang lebih besar daripadanya tidak dapat lagi dibayangkan.” Apa artinya argumentasi seperti ini? Argumentasi ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah sesuatu yang lebih daripadanya tidak dapat lagi dibayangkan sehingga absolutisme dan kesempurnaan Tuhan menjadi nyata disana. Tuhan adalah yang tersempurna dari segala sesuatu yang eksis, dari segala sesuatu yang ada. Mengapa demikian? Menurut Anselmus, jika Tuhan itu tidak ada dan tidak eksis, maka akan masih ada substansi lain yang bisa dibayangkan yang lebih besar daripada Tuhan. Bagi Anselmus, sebuah keadaan imajiner adalah keadaan yang tidak eksis atau dengan kata lain: jika Tuhan hanya berada dalam tataran konsep manusia, maka dia tidak pernah eksis dan tidak pernah menjadi yang tersempurna dari semua yang eksis. Oleh karena itu, karena Tuhan dipahami sebagai yang tersempurna, Ia harus ada, Ia harus eksis. Dalam keadaannya yang eksis inilah, Tuhan menjadi pribadi yang paling sempurna sedemikian sehingga tidak ada sesuatu lainnya yang eksis di dunia ini lebih besar daripada Tuhan. Dengan demikian, eksistensi Tuhan dikatakan sebagai sesuatu yang necessary. Artinya, secara prinsip, eksistensi Tuhan itu mutlak dan tidak mengandung negasi di dalamnya. Argumentasi ontologis lain dikeluarkan oleh Descartes. Dalam argumentasinya, Descartes menunjukkan bahwa eksistensi Tuhan itu juga merupakan sesuatu yang necessary sebab tidak mungkin untuk memikirkan tentang Tuhan tanpa membuat eksistensi itu sebagai sebuah predikat dari Tuhan. Jika Tuhan itu adalah sebuah kesempurnaan, maka Tuhan juga harus memiliki eksistensi sebagai predikatnya. Dalam hal ini, Descartes memahami eksistensi sebagai sebuah predikat kualitas.
 
Dalam kepercayaan Judaisme yang secara ketat didasarkan pada unitarian monoteisme. Doktrin ini mengekspresikan kepercayaan kepada satu Tuhan. Konsep Tuhan yang mengambil beberapa bentuk (misalnya Trinitas) dianggap bidaah dalam Judaisme. Allah adalah disusun sebagai zat yang kekal, pencipta alam semesta, dan sumber moralitas. Allah mempunyai kuasa untuk campur tangan di dunia. Istilah Allah sehingga terkait dengan kenyataan sebenarnya, dan bukan hanya proyeksi dari jiwa manusia. Allah dijelaskan dalam pengertian seperti: "Ada satu Zat, sempurna dalam segala cara, yang merupakan penyebab utama dari semua keberadaan. Semua tergantung pada keberadaan Allah dan semua berasal dari Allah. "
Konsekuensi dari kemutlakan ini adalah Tuhan akan tidak terikat sama sekali dengan konsepsi ruang dan waktu. Bagi entitas Tuhan, tidak dipengaruhi yang dulu atau yang akan datang (periodisasi ke-waktu-an). Tuhan tidak memerlukan tempat (konsepsi ke-ruang-an), sehingga pertanyaan tentang dimana Tuhan hanya akan membatasi kekuasaannya. Maka baginya tidak ada kapan lahir atau kapan mati. Konsepsi ini lebih lanjut merupakan linieritas pemahaman monoteistik atas entitas Tuhan dan keber-ada-an-Nya.

Dalam konsepsi politeistik, dikenal entitas supranatural yang majemuk yang dalam bahasa melayu dikenal dengan sebutan "Dewa" (masculine) dan "Dewi" (feminine).Kata Dewa muncul dari agama Hindu, yakni dari kata Deva atau Daiwa (bahasa Sanskerta), yang berasal dari kata div, yang berarti sinar. Kata dewa dalam bahasa Inggris sama dengan Deity, berasal dari bahasa Latin deus. Bahasa Latin dies dan divum, mirip dengan bahasa Sanskerta div dan diu, yang berarti langit, sinar (lihat: Dyaus). Kata deva (sinar, langit) sama sekali tidak ada hubungannya dengan kata devil (iblis; setan). Istilah dewa diidentikkan sebagai makhluk suci yang berkuasa terhadap alam semesta. Meskipun pada aliran politeisme menyebut adanya banyak Tuhan, namun dalam bahasa Indonesia, istilah yang dipakai adalah "Dewa" (contoh: Dewa Zeus, bukan Tuhan Zeus). Biasanya istilah dewa dipakai sebagai kata sandang untuk menyebut penguasa alam semesta yang jamak, bisa dibayangkan dan dilukiskan secara nyata, sedangkan istilah Tuhan dipakai untuk penguasa alam semesta yang maha tunggal dan abstrak, tidak bisa dilukiskan, tidak bisa dibayangkan.
 
Lebih jauh mengenai permasalahan ini dapat di baca dalam buku "Masa Depan Tuhan" karya Karen Armstrong.

Terlepas dari segala konsepsi benar salah atas Tuhan, adalah menarik hubungan antara Tuhan (khalik) dan ciptaannya (makhluk). Karena Tuhan; seperti terpapar sebelumnya, adalah entitas yang terlepas dari konsepsi ruang dan waktu, maka Tuhan tidak mengenal "proses" yang senyatanya bersandar pada ruang dan waktu. Lain halnya dengan ciptaan (makhluk) apapun bentuknya; dalam dimensi alam bagaimanapun; pastinya terjebak dalam hukum ruang dan waktu. Karenanya ciptaan (makhluk) pastinya aksiomatik mengalami "proses".

Ruang dan waktu dalam pemahaman filsafat muslim juga adalah ciptaan (makhluk), selayaknya segala firman serta qada dan qadar (takaran / takdir). Karena selain Tuhan; entitas tunggal, hanya ada makhluk / ciptaan (eksistensi dengan substansi Tuhan). Hukum ini berkait dengan sifat Maha Pencipta dari Tuhan, dengan objek luar selain pribadi Tuhan adalah keseluruhannya ciptaan. Ciptaan memiliki "pertalian" dengan Tuhan yang kepada manusia dan makhluk hidup lainnya (binatang dan tumbuhan) disebut ruh. Permasalahan ruh dalam pemikiran psikologi kontemporer dikenal dengan istilah "kesadaran keberadaan" atau thetan (terminology yang dipakai oleh pseudo-agama Scientology).

Dalam Islam, Allah (Tuhan) dikatakan begitu dekat dengan manusia bahkan "lebih dekat dari pada urat leher"nya. Pemahaman yang didapat dari hal ini adalah keterkaitan Tuhan dengan makhluk melalui ruh. Yang mana ruh "ditiupkan langsung oleh Allah (Tuhan)" dan kembali kepada-Nya ketika makhluk telah mengalami proses mati di alam dunia. Dapat dimaknai bahwa dalam diri makhluk terdapat "kesadaran keberadaan" Tuhan yang "mengendalikan" makhluk dengan hukum-hukum prosesnya (qada dan qadar). Bentuk aktivitas makhluk dengan lain makhluk (antar ciptaan) dalam "proses" sesuai dengan hukum (qada dan qadar) adalah "interaksi". Interaksi ini bersifat "bebas kehendak" (free-will) sesuai dengan kodrat (hukum; qada dan qadar) masing-masing ciptaan berbanding ciptaan objek interaksinya, namun tetap tunduk pada hukum pertanggung-jawaban (bagi ciptaan / makhluk yang diberi 'aql) selaras dengan apa yang termaktub dalam QS 52:21, 74:38, 2:283, 102:8.

Kesetimbangan hukum-hukum ini sebenarnya adalah 'ilmu Allah yang juga adalah makhluk dan bagian dari Allah (Tuhan). Adalah "interaksi antar Tuhan" yang terjadi di dunia (ruang dan waktu), dimana ketika tiada keber-ada-an selain Tuhan sendiri, seluruhnya adalah manifestasi (Tuhan dalam manifesto-Nya). Sehingga secara hipotesis, apapun yang terjadi, semua adalah karena "kehendak Allah (Tuhan)" yang berinteraksi dengan diri-Nya sendiri (auto-interaction). Karenanya hal ini sesuai dengan sifat Maha Tahu dan Maha Kuasa dari entitas Tuhan. Hipotesis yang dapat diambil oleh saya adalah; Tuhan karena keterbebasan dari ruang dan waktu (yang merupakan ciptaannya sehingga nihil Ia "bertempat" di sana), "berproses" melalui celah ciptaannya (keseluruhan makhluk) agar selaras dengan ejawantah (manifestasi) sifat-sifat ke-ilahian-Nya. Dalam hal ini adalah cinta kasih (rahman dan rahim) demi tercapainya kondisi ideal rahmatan lil alamin yang merupakan Ia-Nya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar